TANTANGAN PEMANDU WISATA SEJARAH DI TENGAH-TENGAH AGENDA OTOMASI

Oleh: Muhammad Faris Rifqi[1]

Agenda otomasi yang disodorkan era Revolusi Industri 4.0 memberikan dampak yang serius bagi kelangsungan hidup profesi-profesi yang sebelumnya dikerjakan hanya oleh manusia. Revolusi Industri 4.0, bagi generasi milenial disikapi dengan euforia. Karena generasi Z dianggap lebih mampu menyesuaikan diri untuk menghdapi era ini. Adanya revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat seluruh komponen bangsa terutama lembaga pendidikan untuk dapat segera beradapatasi. Disrupsi teknologi Informasi adalah suatu keniscayaan yang akan berimbas pada perubahan-perubahan mendasar dalam kehidupan sosial manusia. Untuk menyikapi gegap gempita Revolusi Industri 4.0 akan terdpat tantangan yang semakin berat di tengah

Untuk menumbuhkan optimisme dan meyikapi perubahan yang sangat cepat menghadapi era ini, maka Program Studi Pendidikan Sejarah UNEJ melakukan kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Sejarah dan Budaya untuk memfasilitasi dan menunjang kompetensi lulusan dalam membentuk karakter unggul. Karakter unggul menurut Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah, Dr. Nurul Umamah, tidak akan mungkin dicapai bila tidak memiliki bekal diri yang cukup dalam mengalahkan tantangan dari era Revolusi Industri 4.0, era disrupsi dan distraksi ini.

Pada hari Sabtu, 14 September 2019, bertempat di Ruang Al-Farabi, Gedung 3 FKIP. Kegiatan yang bertajuk, “Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pemandu Wisata Budaya dan Sejarah di Era Revolusi Industri 4.0” dilaksanakan sebagai penunjang mata kuliah Kepariwisataan Sejarah dan Budaya akan dipandu oleh pemateri yang berasal dari luar civitas akademika Universitas Jember. Pemateri atau narasumber yang dipilih untuk mengisi acara tersebut ialah narasumber yang kompeten pada bidangnya dan juga merupakan praktisi. Dua narasumber yang hadir merupakan akademisi jempolan di bidang keilmuannya, Ghifari Yuristiadhi, S.S., M.A., M.M. (Dosen Pariwisata UGM) dan Aries Purwantiny, S.S. (Tim Ahli Cagar Budaya Prov. Jawa Timur/Dinas Pariwisata Lumajang).

Pemberian materi pertama kali diberikan oleh Ghifari Yuristiadhi dan Aries Purwantiny mengenai konsep dasar kepariwisataan sejarah dan objek-objek peninggalan sejarah yang dapat dikembangkan sebagai objek wisata. Tidak lupa, juga disematkan pelajaran filsafat kepariwisata sejarah sehingga membuat para mahasiswa dipancing pemikirannya untuk keluar dari dalam kotak. Para mahasiswa dipantik untuk berpikir bahwa penyelenggaraan pariwisata khususnya terkait dengan kesejarahan tidak perlu dirancang secara kaku dan monoton seperti yang sudah berlaku. Menurut Ghifari, perlu adanya keberanian dan kreatifitas dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Unej dalam mengolah instrumen-instrumen pariwisata di daerah mereka dengan tetap mengedepankan nilai-nilai historis dari suatu objek wisata. Nilai-nilai historis dari suatu objek wisata itulah yang menjadi urgensi kegiatan pariwisata sejarah. Dan seorang pemandu wisata sejarah yang revolusioner harusnya mampu menjalin dialektika dengan para wisatawan yang dipandunya, atau minimal mampu memberikan ekspalansi historis yang padat dan lugas. Inilah titik utama daya tarik historis yang seringkali terlupakan oleh pemandu wisata biasa.

Pemandu wisata sejarah dan budaya bisa menjadi profesi unggulan dan alternatif bagi lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah. Sebagai prospek yang cerah untuk menyalurkan pengetahuan sejarahnya, profesi pemandu wisata harusnya mulai diperhatikan oleh civitas akademika Unej untuk menjadi fokus pengembangan skills mahasiswa dalam kegiatan pemanduan wisata sejarah maupun budaya. Sekalipun agenda otomasi semakin menguat, nyatanya kegiatan pemanduan wisata melibatkan unsur kemanusiaan yang lebih mendalam. Para pengunjung objek sejarah yang tidak memiliki kapasitas yang baik dalam memahami nilai-nilai historis dari objek tersebut tentu memerlukan adanya pihak lain yang memang berkualifikasi penuh atas syarat penguasaan ilmu sejarah. Selain itu, nilai-nilai kepariwisataan terletak juga pada interaksi antar manusia yang saling berbagi pengetahuan dan pemahamannya terkait dengan aspek-aspek, latar belakang, hingga keseluruhan nilai historis dari suatu objek. Proses interaksi dan humanisasi jelas bukan wilayah yang menjadi robot dan fokus agenda otomasi. Inilah peluang besar bagi lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah dalam menghadapi tantangan agenda otomasi yang kerap merebut lahan kerja manusia biasa.

Pemateri kedua memberikan materi mengenai potensi-potensi wisata Sejarah dan Budaya yang terdapat di Kabupaten Lumajang. Selain itu Aries Purwatiny juga menyampaikan mengenai ancaman yang muncul terhadap potensi-potensi cagar budaya tersebut. Penyampaian materi kedua lebih ditekankan dengan memberikan informasi bahwa banyak sekali cagar budaya yang memiliki potensi untuk dapat dijadikan destinasi wisata sejarah dan budaya, hanya saja masih terdapat beberapa kendala terkait dengan pengembangan berupa kurangya sosialisasi terhadap masyarakat dimana tempat cagar budaya itu berada, dan kurangya perawatan serta publikasi.

Kegiatan ini diharapkan akan mampu merangsang dan memberikan stimulus bagi mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNEJ untuk dapat mengembangkan potensi wisata sejarah dan budaya yang ada di wilayah Jember dan sekitarnya. Lebih jauh lagi, kegiatan ini mampu diharapkan dapat meningkatkan potensi mahasiswa sebagai pemandu wisata sejarah dan budaya di era Revolusi Industri 4.0 yang membutuhkan pendekatan yang lebih maju dalam mengembangkan potensi wisata sejarah dan budaya. Luaran dari hasil pelatihan ini akhirnya membuat mahasiswa mampu mengkonsep wisata sejarah dan budaya yang ada di wilayahnya dalam bentuk booklet sebagai sarana promosi dan pendokumentasian.

 

Disunting oleh A.R. Pratama

[1] Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNEJ

Bookmark the permalink.